Untuk Menang, Haruskah Kita Balas Dendam?

Untuk Menang, Haruskah Kita Balas Dendam? – Sering saya ditanya peserta seminar, apa yang harus mereka lakukan jika kebaikan mereka dibalas dengan hal yang menyakitkan? Salahkah jika dendam? Bolehkah mereka membalasnya?


Sambil tersenyum saya selalu menjawab, cuekin. Gak usah dibalas. Balas dendam itu hanya merugikan kita. Merusak masa depan, menjauhkan kita dari kebahagiaan dan kesuksesan.


Memang nggak enak sih jika sikap baik kita dibalas dengan keburukan. Sesuatu yang menyakitkan.


Tapi percayalah. Orang-orang seperti itu jauh dari kebahagiaan. Sulit mendapatkan kepercayaan. Serta rezeki yang dirindukan. Rugi banget, kan?


“Lho, kok?” tanya peserta keheranan sambil mengernyitkan dahinya.


Tak ingin melihatnya kebingungan, sambil tersenyum saya melanjutkan jawaban.


Untuk menghadapi orang-orang seperti itu, yang harus kira lakukan adalah :


Pertama, cuekin. 


Nggak usah dipikirin. Karena semakin mengingat sikap dan perbuatannya, hati kita sakit dibuatnya.


Akibatnya, konsentrasi jadi terganggu. Semangat bekerja pun hilang seketika. Namanya juga sedang sendu. Pikiran menjadi lesu.


Kedua, doakan pada Tuhan yang baik.
 Bukan buruk. Apalagi berharap mereka celaka. Waduh.


Allah itu kan Tuhan Yang Maha Baik. Masa kita suruh melakukan keburukan. Kualat loh. He he he.


Doakan yang baik pada Allah, Tuhan yang Maha Pengasih & Penyayang agar orang tersebut dilembutkan hatinya. Diberikan kenikmatan yang luar biasa, bahkan yang belum pernah kita rasakan sekalipun, doakan agar diberikan padanya.


Agar ia merasakan kebahagiaan seperti yang kita rasakan. Menjadi jauh lebih baik dari yang sekarang.


Ketiga, tetaplah menjadi baik.
 

 

Haruskah Kita Balas Dendam? Tak perlu balas dendam.


Karena setiap membalas perbuatan buruk itu sangat merugikan diri sendiri loh. Disamping menguras energi, juga memancing kita tuk berbuat buruk turut berbuat buruk juga.


Nah. Jika sudah begini, hati dan pikiran kita sibuk berdalih. Mencari segala cara untuk membalasnya. Ingin sekali membuatnya lebih sakit dari yang kita rasakan. Ups! Ini sangat ber-ba-ha-ya.


Karena perbuatan itu menjauhkan kita dari impian. Tujuan hidup kita yang sebenarnya. Menjadi seorang yang baik serta bermanfaat untuk banyak orang. Benar, kan?


Yang dimaksud tetaplah menjadi baik itu ya tetap menyapa orang tersebut dengan baik. Hanya saja tak usah memberinya kepercayaan lagi. Tak usah menceritakan keburukannya dan nggak usah berurusan lagi dengannya.


Keempat, maafkan sikapnya.
 Meski seandainya ia tak pernah meminta maaf. Dengan memaafkan, yang namanya rasa marah, sakit hati ataupun dendam itu menjadi hilang.


Ini semua karena setiap kali kita berbuat baik, sebenarnya kebaikan itu adalah untuk diri kita sendiri.


Begitu juga sebaliknya. Setiap kali kita berbuat buruk termasuk melakukan hal-hal yang menyakitkan, sebenarnya keburukan dan kejahatan itu adalah untuk diri kita sendiri.


Nggak percaya? Sok atuh kita buktikan sekarang. Ingat kembali pengalaman kita dulu saat berbuat hal-hal yang merugikan orang lain. Menyakiti orang lain.


Apa yang kita rasakan setiap kali mengingatnya?


Lega banget? Jelas enggaklah.


Merasa sedih dan malu? Ya jelaslah. Kita malu hati karenanya. Dan sangat menyesal telah tega melakukannya.


Kemudian bersujud memohon maaf kepada Allah, berharap mendapatkan pengampunannya. Lalu memberanikan diri untuk mendatangi yang bersangkutan, mengucapkan kata maaf dengan penuh penyesalan.


Itupun jika kita memang punya keberanian dan berniat menjadi seorang pemenang.


Jadi haruskah kita balas dendam? Tentu saja tidak perlu dendam.
Karena memaafkan itu nikmatnya luar biasa. Menjauhkan kita dari kesedihan, kekecewaan dan kemarahan yang merugikan.


Dahsyatnya lagi, dalam seketika hati ini langsung berubah menjadi tenang dan tentram. Pikiran pun terasah jernih.


Diri ini langsung tersemangati untuk beraktivitas lagi dan lagi.


Kelima, fokus pada tujuan.

 


Karena setiap tujuan memotivasi kita terus bertindak nyata dan mewujudkannya. Membuat kita lupa akan setiap hal yang menyakitkan. Ini karena impian kita jauh lebih besar daripada rasa sakit itu sendiri.


Jadikan setiap hal yang menyakitkan itu sebagai dorongan kita untuk melangkah. Yang membuat kita semakin kuat dan bijaksana.


Fokuslah pada dunia yang kita impikan. Karir dan prestasi yang kita harapkan. Bisnis yang kita rindukan. Sambil menegakkan kepala agar mata ini selalu memandang lurus ke depan.


Lakukanlah hal-hal besar  yang kita inginkan dalam hidup. Setiap hal besar itu dimulai dari langkah-langkah kecil dan konsisten. Pikirkan bagaimana caranya kita bisa melakukannya. Dan bagaimana caranya kita bisa segera sampai ke sana.


Asyik, kan? Ini, kan yang kita inginkan?


Percayalah!


Apa yang kita lakukan itulah yang kita dapatkan.


Setiap kebaikan yang kita lakukan, kebaikan itu untuk diri kita sendiri. Dan setiap kali melakukan keburukan, keburukan itu hanyalah untuk diri kita sendiri.


Jadi, haruskah kita balas dendam? Tentu saja tidak. Selamat menjadi pemenang yang membanggakan!

Ingin menigkatkan leadership skill & manajemen Anda sebagai pemimpin? Ikuti program training untuk Manager di 2018 ini

Related Post

Leave us a reply