Ini Bedanya Responsif Dengan Reaktif

Seberapa sering kita mendengar kata responsif? Lalu apa perbedaannya dengan reaktif? Hem supaya lebih mudah, ada baiknya jika kita menyimak 2 kisah yang sangat berbeda berikut ini.

Kisah pertama :

Membaca pesan elektronik teguran dari managernya yang berisi teguran atas kesalahan membuat laporan, Santi merasa sedih. Air matanya meleleh. “Aku memang bodoh,” gumam Santi dalam hati. Hari itu juga ia memutuskan untuk menghindar bertemu dengan managernya. Teguran itu membuat Santi murung seharian di kantor dan kehilangan semangat kerja. Esok harinya, ia bekerja dengan semangat pas-pasan.

Sekarang bandingkan dengan kisah kedua :

Membaca pesan elektronik teguran dari managernya atas kesalaham membuat laporan, Lia mengecek kembali laporannya. “Saya harus memperbaiki kesalahan ini,” gumam Lia dalam hati, lalu menuju ruangan managernya. “Saya mohon maaf atas keteledoran saya, Pak. Bagaimana jika saya perbaiki laporan ini?” Lia melihat managernya tersenyum tanda setuju. Ia lega karena memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Apa perbedaan yang mencolok antara kedua kisah tersebut? Kisah pertama menunjukkan sikap yang menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Bukannya berusaha memperbaiki kesalahan malah tenggelam dalam kekecewaan. Buktinya, ia menghindar dari managernya dan tidak masuk kantor keesokan harinya. Tindakan Santi yang menyalahkan dirinya secara berlebihan, menghindar untuk bertemu dengan Managernya serta bekerja dengan semangat pas-pasan. Inilah contoh pribadi yang bersikap reaktif.

Berbeda halnya dengan kisah kedua. Kisah kedua menunjukkan pribadi yang bertanggung jawab. Begitu mendapat teguran, ia segera mengecek pekerjaannya, mengakui kesalahannya, meminta maaf kemudian memperbaikinya saat itu juga. Inilah yang disebut dengan sikap responsif.

Pribadi reaktif mendahulukan emosi daripada jalan keluar.

Mudah kecewa menghadapi kritikan dan cenderung menuntut orang lain memahami dirinya, daripada berusaha memahami orang lain. Pribadi reaktif ini kurang tanggap akan betapa pentingnya memperbaiki diri. Ini karena pribadi reaktif lebih menuntut orang lain melakukan sesuatu daripada dirinya sendiri.

Orang yang bersikap reaktif baik di kantor, organisasi maupun di lingkungan bisnis, cenderung kurang disukai banyak orang. Ya, karena pribadi reaktif ini lebih memikirkan diri sendiri daripada orang lain.

Berbeda halnya dengan pribadi responsif. Pribadi responsif lebih mengutamakan tangung jawab daripada emosi. Bijak dalam menghadapi kiritikan, karena ia selalu berusaha memahami orang lain. Pribadi responsive selalu mengajak dirinya untuk lebih memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan, bukan apa yang seharusnya orang lain lakukan.

Nikmatnya menjadi pribadi responsif ini, di mana pun berada, baik di kantor, organisasi maupun di lingkungan bisnis, ia disukai banyak orang.

Ini karena sikap tanggung jawabnya yang lebih memikirkan apa yang bisa ia lakukan.

Nah dari 2 kisah barusan, mana yang lebih mencerminkan diri kita? Reaktif atau responsif? Jika ternyata kita lebih reaktif daripada responsif, jangan berkecil hati. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Dan, sekaranglah saat yang tepat untuk berubah, menjadi pribadi responsif.

Cukup dengan bertanya di dalam hati,”Tindakan terbaik apalagi yang bisa saya lakukan hari ini?” Kemudian lakukan segala sesuatunya dengan sepenuh hati. Selamat menjadi pribadi responsif!

Ingin menigkatkan leadership skill & manajemen Anda sebagai pemimpin? Ikuti program pelatihan leadership & manajemen ALC di 2018 ini

*Anda menyukai tulisan Motivator Wanita Terbaik ini? Share yuk!

admin

More Posts By admin

Related Post

Leave us a reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.